Pages

Minggu, 20 Mei 2012

Komponen-komponen dalam Darah


DARAH
  Ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai cirri khas jaringan darah yang sangat ajaib, di antaranya menyangkut komposisi, fungsi plasma darah, fungsi butir  darah, pembentuk dan daur ulang darah, serta fungsi umum jaringan darah.
  Darah merupakan jaringan yang khusus tersusun dari matriks cair berupa plasma dan butir-butir darah. Perbandingan plasma dan butir darah mendekati 45:55. Volume darah manusia sekitar 1/13 (8%) berat tersebut. Rata-rata orang Indonesia memiliki volume darah antara 4,5-5 liter. Plasma darah tersusun dari air, bahan organic, dan ion-ion atau mineral.
a.     Plasma Darah
  Darah terdiri atas plasma (55%) dan sel-sel darah (45%). Sebagian besar plasma (90%) adalah air dan 10% lainnya berupa protein, asam amino, gula, vitamin, garam mineral, enzim, hormone dan antibody, serta gas-gas dan sisa metabolism. Jenis garam mineral di antaranya Na, Ca, K,Cl, ion fosfat, KAR, dan sulfat. Gas-gas yang ada, seperti O2 dan CO2. Zat-zat buangan lain, misalnya ureum dan kreatin. Jenis protein darah yang dominan adalah albumin dan globulin.
b.    Butir-Butir Darah dan Pembentukannya
  Ada tiga kelompok butir darah, yaitu sel darah merah (erytrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel darah merah, sel darah putih, dan keeping darah diproduksi pada sumsum tulang. Pada bayi, butir-butir darah itu dibentuk di dalam hati dan limpa. Pada anak-anak, semua sumsum tulang secara aktif menghasilkan butir-butir darah hingga umur sekitar 20 tahun. Pada orang dewasa atau usia di atas 20 tahun, penghasil butir darah banyak dibentuk pada sumsum tulang.
  Sumsum tulang yang masih aktif membentuk sel darah disebut sumsum merah, sedangkan sumsum tulang yang sudah tidak aktif lagi disebut sumsum kuning. Sel darah merah  (erytrosit)dibentuk pada sumsum tulang di jaringan endothelium. Sel darah putih jenis granulosit dibentuk pada bagian jaringan retikuloendotelium. Sel-sel endotelium penghasil sel darah merah disebut eritroblas.
 1. Erytrosit

 Erytrosit berbentuk bulat cembung (bikonkaf) dan tidak berinti. Pada keping sel darah terdapat banyak hemoglobin (Hb). Jumlah sel darah merah adalah sekitar 5 juta /1 mm3 darah. Sel darah merah hanya berumur sekitar 120 hari. Selanjutnya, sel darah merah yang sudah tua akan dirombak oleh sel-sel darah putih.
  Hb merupakan suatu protein kompleks yang berinti unsure besi (heme=Fe). Hb berfungsi mengangkut O2 dan CO2 karena daya gabungnya (afinitas) yang besar terhadap kedua molekul tersebut. Adanya erytrosit tersebut member warna merah pada darah. Jika Hb banyak mengikat O2, maka warna darah menjadi merah segar (darah bersih). Sebaliknya, akan berwarna merah tua bila Hb banyak mengikay CO2. Afinitas (kecenderungan untuk membentuk ikatan) Hb terhadap karon monoksida (CO) jauh lebih kuat dibandingkan dengan O2 atau CO2. Gas CO dihasilkan dari pembakaran mesin mobil yang tidak sempurna. Oleh karena itu, sering terjadi orang meninggal saat tidur di dalam mobil. Janganlah tidur di dalam mobil bila dalam keadaan berhenti dengan mesin yang hidup.
  2. Leukosit

  Sel darah putih (leukosit) dibentuk di sumsum tulang merah, jaringan limfoid, dan kelenjar limfa. Jumlah leukosit normal seseorang antara 4000-10000 butir/mm3. Sel darah putih dapat dikelompokkan dalam dua golongan, yakni sel granuler dan sel agranuler. Sel darah putih granuler meliputi neutrofil, basofil, dan eosinofil. Sel darah putih agranuler meliputi limposit dan monosit. Sel granuler berbintik-bintik , nucleus terpecah-pecah, dan terikat oleh benang sitoplasma. Sel limfosit berukuran lebih besar, berinti satu, dan bentuk bulat. Sel limfosit tidak dapat bergerak, sedangkan sel-sel darah putih yang lain dapat bergerak amuboid.
  Fungsi leukosit adalah untuk mempertahankan tubuh dari serangan bibit penyakit. Proses sel “mamakan” benda asing itu disebut fagositosis.  Sifat sel yang demikian disebut fagositer. Sel limfosit yang dihasilkan pada kelenjar limfa tidak dapat bergerak dan berperan membentuk kekebalan tubuh (imunitas).
  Jumlah leukosit tidak tetap (naik turun) bergantung pada keadaan kesehatan tubuh. Pada seseorang terinfeksi penyakit (seperti TBC, tifus, dan demam berdarah), jumlah sel leukositnya akan turun. Pada penderita cacingan, ternyata jumlah leukosit cenderung meningkat dari jumlah normal. Pada penderita kanker, jumlah leukositnya dapat mebcapai 20000 butir/mm3. Pada penderita kanker darah (leukemia), jumlah leukositnya akan jauh meningkat. Oleh karna itu, penderitanya akan lemas, bahkan meniggal dunia. Jumlah sel darah putih yang berlebih dari keadaan normalnya disebut leukositosis. Keadaan kekurangan jumlah leikosit disebut leukopeni.
  3. Trombosit

  Bentuk sel trombosit tidak beraturan, berukuran lebih kecil disbanding butir darah darah lain, dan tidak berinti. Jumlah trombosit normal antara 200000-500000 butir. Fungsi trombosit adalah untuk pembekuan darah. Jika jumlah sel trombositnya sangat kurang, maka darah akan sukar membeku bila terjadi luka.
  Pernahkah kalian mendengar orang yang darahnya sukar membeku saat terjadi luka ? Orang tersebut adalah penderit hemopilia. Penderita hemophilia tidak mampu membentuk zat antihomofiliglobin (factor AHG). Penyakit itu merupakan penyakit kelainan genetis yang diwariskan dari orang tua ke anaknya. Penderita penyakit tersebut harus memperoleh bantuan khususndari dokter bila terjadi pendarahan.
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar